“Kita harus ada langkah kongkret kepada sasaran, salah satunya adalah dengan memberikan paket hemat penuh gizi, semoga dengan pemberian paket gizi ini bayi-bayi yang di duga berisiko stunting bisa tumbuh sehat berkembang sebagaimana mestinya,” harapnya.
Tarkul menyebutkan, Desa Ciruas, Kecamatan Ciruas merupakan salah satu desa dari sepuluh lokus stunting untuk tahun 2022.
Adapun untuk sasarannya sebanyak 16 anak yang diduga berisiko stunting. “Dengan cara Jumanting ini menurut kami sangatlah efektif dalam upaya penurunan angka kasus stunting,” katanya.
Tarkul mencontohkan, untuk lokus di desa lain yakni Desa Mongpok, Kecamatan Cikeusal dengan 21 anak berisiko stunting. Hasilnya, dari 21 anak tersebut sudah menunjukan tingkat perkembangan pertumbuhan badannya mencapai 80 persen.
“Dari sebelumnya baik tinggi dan berat badan belum seimbang dengan usianya, untuk saat ini menunjukan perubahan yang sangat baik,” tegasnya.
Menurut Tarkul, Jumanting yang digelar di Desa Ciruas, Kecamatan Ciruas merupakan yang kedelapan, dari 10 desa lokus stunting yang ditetapkan pada Tahun 2022.
Adapun ke-10 desa yang menjadi lokus tersebut, adalah Desa Ciruas, Kecamatan Ciruas, Desa Petir dan Desa Mekarbaru, Kecamatan Petir, Desa Pancanegara, Kecamatan Pabuaran, dan Desa Rancasumur, Kecamatan Kopo.
Kemudian, Desa Panunggulan dan Desa Bojong Menteng, Kecamatan Tunjung Teja, Desa Parakan, Kecamatan Jawilan, Desa Mekarsari, Kecamatan Carenang, Desa Argawana, Kecamatan Puloampel, dan Desa Binuang, Kecamatan Binuang.
“Dari sepuluh desa tersebut, kini tinggal menyisakan dua desa lagi,” ungkap Tarkul.
Diketahui, kasus stunting di Kabupaten Serang kini terus mengalami trend penurunan. Tahun 2021 turun sebanyak 12,23 persen, dan tahun 2024 ditargetkan turun sebanyak 14 persen.***


















































