Yati mengakui, untuk saat ini masih kesulitan karena indikatornya harus menunggu aplikasi ketika dibuka oleh Kemendagri.

“Tadinya kita ingin membuat sendiri, ternyata ketika kunker sudah ada daerah yang punya. Maka kita mengembangkan aplikasi yang ada,” ujarnya.

Sementara, Kabid Litbang Bappedalitbang Kabupaten Bandung Ruli Isnani mengatakan, aplikasi Apik adalah salah satu cara dalam memasukkan inovasi-inovasi dalam lomba IGA yang digelar Kemendagri.

Tegasnya, kata dia, aplikasi Apik itu untuk mempermudah dalam mengisi indikator yang ada di IGA.

“Jadi kita punya aplikasi Apik, selain dari data-data inovasi di dinas-dinas nanti dalam pengembangannya memasukkan jurnal, riset dan pengembangan,” ujarnya.***

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini