Menurut Agus, secara keseluruhan baik umbinya, batang maupun daunnya, ada 17 produk turunan atau hilirisasi yang bisa dioptimalkan.
“Untuk kebutuhan di Bogor saja, dalam seminggu itu membutuhkan sekitar 7 ton umbi kering atau gaplek dari kita. Peluangnya sampai sekarang masih cukup tinggi, karena suplai kita masih belum mencapai itu,” ujarnya.
Agus melanjutkan, daerah lainnya yang peluang permintaan umbi basah cukup tinggi itu seperti Bekasi sebanyak 8 ton per bulan, Sukabumi 7 ton per bulan dan Semarang 10 ton per hari.[irp]
Sedangkan batangnya, bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan industri tekstil setelah memasuki masa panen.
Kemudian daunnya bisa dimanfaatkan sebagai bahan alternatif tembakau dengan kandungan nikotinnya sampai nol persen.
“Ada tujuh negara dengan permintaan ekspor yang cukup tinggi, seperti Australia, Belanda, Malaysia, India, Turkey, New Zealand dan Korea Selatan (Korsel),” ucapnya.
Australia, lanjut Agus, dalam sebulan permintaan ekspornya mencapai 200 ton daun kering talas beneng, Malaysia 40 ton per bulan, dan New Zealand 100 ton per bulan.
Lalu untuk permintaan umbi basahnya, Belanda membutuhkan 70 ton per bulan dan Korsel 100 ton per bulan.
Sedangkan, untuk permintaan gaplek dari India dan Turki masing-masing sebanyak 50 ton per bulan.




















































Untuk mendapatkan informasi tersebut adalah nomor yg bs di hubungi
Dengan usia panen umbi sekitar 10 bulan, apakah ada tips khusus agar kualitas umbi tetap optimal selama masa pertumbuhan talas beneng?