Virgojanti mengklaim, penanganan intervensi spesifik yang sudah mencapai target adalah indikator tablet tambah darah bagi remaja putri dan Balita Imunisasi Dasar Lengkap (IDL).

Kemudian ada juga yang masih dalam proses seperti skrining anemia, PMT Bumil KEK, PMT gizi kurang. “Keluarga berisiko stunting di Provinsi Banten sebanyak 532.580 keluarga, berdasarkan hasil pemutakhiran pendataan keluarga tahun 2022,” ucapnya.

Bukan hanya itu, lanjut Virgojanti, untuk capaian intervensi spesifik secara umum juga sudah tercapai dengan baik.

Namun, masih ada indikator yang belum memenuhi target seperti calon Pasangan Usia Subur (PUS) yang memperoleh pemeriksaan kesehatan sebagai bagian dari pelayanan nikah dan target sasaran yang memiliki pemahaman yang baik tentang stunting di lokasi prioritas.

“Hal ini perlu menjadi catatan serius untuk mendukung pemenuhan target yang telah ditetapkan,” ujarnya.

Sementara, Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan dan Pembangunan Kependudukan, Kementerian Koordinasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Satya Sananugraha mengatakan, karena nilai absolut dan jumlah penduduknya yang besar, Provinsi Banten menjadi salah satu daerah prioritas yang dibantu.

“Penurunan stunting di Banten sangat tinggi. Itu cukup berhasil. Makanya beberapa waktu lalu mendapatkan bantuan dana insentif fiskal dari Bapak Wapres,” katanya.

“Kita harapkan percepatan penurunan stunting di Banten bisa kembali ditekan, sehingga Banten bisa menjadi contoh untuk percepatan penurunan stunting,” sambungnya.***

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini