Didasari Rasa Kepedulian, FISIP UNMA Banten Bantu Perlengkapan Sekolah kepada 100 Siswa Madrasah Diniyah Awaliah

3
0
UNMA Banten
Wakil Rektor II Universitas Mathla'ul Anwar Banten Nur Aziz Hakim memberikan tas beserta alat tulis kepada masyarakat Desa Muruy, Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang, Kamis (23/7/2026). (Foto: Istimewa)

PANDEGLANG,SOROSOWAN.CO.ID – Civitas akademika Program Studi Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Mathla’ul Anwar (UNMA) memberikan perlengkapan sekolah kepada 100 siswa Madrasah Diniyah Awaliah (MDA) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI), Kamis (23/7/2026).

Selain terdorong oleh rasa kepedulian, kegiatan bakti sosial (baksos) ini juga sebagai pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertema “Peduli Pendidikan di Pedesaan, Mencerdaskan Anak Bangsa”.

Hadir Wakil Rektor II Universitas Mathla’ul Anwar Banten Nur Aziz Hakim, Dekan FISIP Said Ariyan, sejumlah dosen, dan puluhan mahasiswa.

Puluhan anak MDA, Desa Muruy, Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang senang dengan bantuan tersebut.

Tas sekolah baru berisi alat tulis digenggamnya. Seolah mereka tengah mendapatkan sesuatu yang diinginkan tanpa sebelumnya terpikirkan.

Sikap itu sangat masuk akal, karena bagi sebagian keluarga di desa tersebut, membeli tas, buku tulis, dan alat tulis bukan perkara ringan. Kebutuhan sekolah sering harus menunggu setelah kebutuhan rumah tangga terpenuhi.

Wakil Rektor II Universitas Mathla’ul Anwar Banten Nur Aziz Hakim mengatakan, bagi Unma pengabdian kepada masyarakat merupakan bagian dari tanggung jawab perguruan tinggi untuk menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat.

Katanya, pendidikan bukan hanya urusan sekolah, melainkan tanggung jawab bersama.

Nur Aziz Hakim menyebutkan, program penyerahan bantuan disusun sebagai respons atas masih besarnya beban keluarga dalam memenuhi kebutuhan perlengkapan sekolah, terutama di wilayah pedesaan.

Selain membantu mengurangi pengeluaran orangtua, kegiatan itu juga diarahkan untuk meningkatkan semangat belajar siswa sejak usia dini.

“Perguruan tinggi tidak boleh berhenti sebagai pusat transfer ilmu pengetahuan. Kampus harus hadir di tengah masyarakat, merasakan persoalan yang mereka hadapi, lalu menawarkan solusi nyata. Pendidikan adalah investasi terbesar bangsa. Karena itu, setiap anak, termasuk yang berada di pelosok desa, berhak memperoleh perhatian dan kesempatan yang sama untuk meraih masa depan yang lebih baik,” ujarnya.

Menurut Nur Aziz Hakim, keberhasilan perguruan tinggi tidak hanya diukur dari capaian akademik, tetapi juga dari manfaat yang dirasakan masyarakat.

“Kampus harus menjadi mitra masyarakat dalam menyelesaikan persoalan pembangunan, termasuk meningkatkan kualitas pendidikan di pedesaan,” katanya.


Tri Dharma Tidak Berhenti di Ruang Kuliah

Sementara Dekan FISIP UNMA Said Ariyan mengatakan, baksos pemberian tas dan alat sekolah merupakan bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

“Kami ingin memastikan bahwa ilmu yang dipelajari di kampus memiliki manfaat langsung bagi masyarakat. Pengabdian kepada masyarakat adalah tanggung jawab moral perguruan tinggi dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan,” ucapnya.

Menurut Said Ariyan, peningkatan mutu pendidikan membutuhkan kerja sama berbagai pihak. Sekolah, perguruan tinggi, pemerintah, masyarakat, dan keluarga harus berjalan dalam arah yang sama agar kesempatan belajar dapat dinikmati seluruh anak.

Sedangkan, Ketua Pelaksana Pengabdian Masyarakat yang juga Ketua Program Studi Ilmu Pemerintahan FISIP UNMA Ombi Romli mengatakan, bantuan perlengkapan sekolah hanyalah salah satu bagian dari upaya memperkuat pendidikan di pedesaan.

“Kami ingin anak-anak memiliki semangat untuk terus belajar dan berani bercita-cita. Bantuan ini memang sederhana, tetapi kami berharap dapat meringankan beban orangtua sekaligus menjadi penyemangat bagi anak-anak untuk terus bersekolah,” ujarnya.

Menurut Ombi Romli, kegiatan serupa perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, sekolah, dan masyarakat agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas.

Bagi anak-anak Muruy, bantuan yang diterima hari itu mungkin berupa tas, buku, dan alat tulis.

“Namun bagi para orangtua, perhatian terhadap pendidikan memiliki arti yang lebih besar. Kehadiran kampus di desa menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan hanya tanggung jawab sekolah, melainkan ikhtiar bersama untuk membuka kesempatan yang lebih baik bagi generasi berikutnya,” ungkapnya.***

Penulis: Endang Yoga
Editor: Abdul Azis

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini