
TANGERANG,SOROSOWAN.CO.ID – Gubernur Banten Andra Soni menyebutkan, Provinsi Banten saat ini telah memiliki dua Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang ditetapkan oleh pemerintah pusat.
Kedua KEK itu adalah, KEK Tanjung Lesung yang difokuskan pada sektor pariwisata, dan KEK ETKI yang bergerak di sektor pendidikan, kesehatan, ekonomi kreatif, dan teknologi digital.
Demikian hal itu disampaikan Gubernur Banten Andra Soni saat meninjau Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Edukasi, Teknologi, dan Kesehatan Internasional (ETKI) Banten, bertempat di kawasan BSD, Kecamatan Cisauk, Kabupaten Tangerang, Senin (14/9/2026).
“Alhamdulillah, hari ini saya meninjau langsung progres salah satu Kawasan Ekonomi Khusus yang ada di Banten, yakni di kawasan BSD,” ungkap Gubernur Andra.
Peninjauan itu dilakukan untuk melihat langsung progres investasi dan aktivitas usaha di kawasan tersebut.
Menurut Andra Soni, perkembangan KEK ETKI Banten berjalan sangat baik, bahkan melampaui ekspektasi.
Target investasi kawasan ini dalam 20 tahun ke depan diproyeksikan mencapai Rp18 triliun. Menariknya, realisasi investasi pada tahun pertama telah menyentuh angka Rp1,9 triliun dengan penyerapan tenaga kerja sekitar 1.773 orang.
Dalam lima tahun ke depan, investasi ditargetkan menembus hampir Rp6 triliun. Pengembangan KEK ini diharapkan tidak hanya meningkatkan serapan tenaga kerja, tetapi juga membawa dampak positif yang luas bagi ekosistem perekonomian Banten.
“Harapan kita, keberadaan KEK ini mampu mengangkat pertumbuhan ekonomi Provinsi Banten. Dengan ekonomi yang terus tumbuh, dampaknya tentu akan dirasakan langsung oleh masyarakat Banten,” ujarnya.
Gubernur Andra meyakinkan, Pemprov Banten berkomitmen penuh mendukung pengembangan KEK ETKI. Terlebih, pengelola kawasan kini tengah diajukan rencana perluasan area seiring dengan tingginya minat investor.
Ke depan, kawasan tersebut diproyeksikan menjadi daya tarik investasi berbasis teknologi, salah satunya fasilitas pusat data (data center).
“Nantinya akan banyak teknologi yang masuk, salah satunya data center. Kehadiran infrastruktur ini sangat diperlukan oleh pemerintah guna mendukung ekosistem digital di Indonesia,” ujarnya.
Dalam kunjungan tersebut, Gubernur Andra menekankan, pentingnya menyelaraskan pengembangan KEK dengan peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di Banten. Pemprov Banten telah menjalin kerja sama dengan pengelola KEK ETKI untuk membuka akses pendidikan dan pelatihan yang selaras dengan kebutuhan dunia industri.
Salah satu wujud nyata kolaborasi ini adalah pemberian beasiswa pendidikan vokasi di Fuji Academy bagi 20 anak asal Banten. Program tersebut dirancang untuk menyiapkan lulusan siap kerja yang nantinya diproyeksikan berkarier di Jepang.
“Kami telah membangun kerja sama dengan pihak pengelola. Mereka memfasilitasi anak-anak Banten agar memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan dan pelatihan yang berkualitas,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Divisi Operasional Badan Usaha Pembangun dan Pengelola (BUPP) KEK ETKI Banten Lindawaty menjelaskan, bahwa KEK ETKI Banten resmi ditetapkan pada Oktober 2024 melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 38 Tahun 2024. Kawasan ini berdiri di atas lahan seluas kurang lebih 59,68 hektare.
Menurut Lindawaty, progres pembangunan kawasan telah mencapai sekitar 50 persen, khususnya di sisi timur. Sementara, di sisi barat masih dalam tahap pengembangan. Jumlah pelaku usaha ada 29 tenant yang beroperasi atau membangun fasilitas di dalam kawasan, dari target sedikitnya 50 pelaku usaha dalam lima tahun ke depan.
Menurutnya, sektor kesehatan tercatat menjadi salah satu daya tarik utama investor di KEK ETKI Banten. Beberapa bidang usaha yang telah hadir meliputi layanan In Vitro Fertilization (IVF) atau bayi tabung, klinik kecantikan dan estetika, klinik onkologi, serta laboratorium genetik.
Disebutkan, pihak pengelola terus berkoordinasi dengan Pemprov Banten untuk memaksimalkan promosi kawasan dan membuka peluang kolaborasi dengan pelaku usaha lokal.
“Kami bersama Pemprov Banten berupaya mempromosikan KEK melalui sistem aplikasi investasi. Selain itu, kami juga membuka peluang kolaborasi dengan mempertemukan (business matching) para pelaku usaha di sekitar kawasan dengan mitra bisnis yang sudah ada di dalam kawasan,” jelas Lindawaty.***
Penulis: Abdul Azis

















































