PBMA Kecam Keras Gimmick Promosi Miras dengan Surat Ad-Dhuha, Jazuli: Kami Minta Polisi Bertindak Tegas

20
0
Ketua Umum PBMA Jazuli Juwaini
Ketua Umum PBMA Jazuli Juwaini menyampaikan sambutan di sebuah acara. (Foto: Istimewa)

JAKARTA,SOROSOWAN.CO.ID – Pengurus Besar Mathla’ul Anwar (PBMA) mengecam keras tindakan yang menjadikan hafalan Surah Ad-Dhuha sebagai gimmick promosi minuman keras Newport dalam kegiatan di kawasan Ancol, Jakarta Utara, Selasa (11/8/2026).

Diketahui, dalam peristiwa yang videonya beredar luas, seorang pengunjung ditantang menghafalkan Surah Ad-Dhuha, dan kemudian memperoleh hadiah berupa minuman keras.

Video itu tentu memicu kecaman publik, dan kontennya kini telah dilaporkan, dan mendapat perhatian aparat kepolisian.

Dalam siaran pers, Ketua Umum PB Mathla’ul Anwar (PBMA) Jazuli Juwaini pun mengecap hal serupa.

Jazuli menegaskan, bahwa tindakan tersebut sangat tidak beradab, melecehkan kesucian Alqura, serta tidak dapat dibenarkan dengan alasan apa pun.

“Kami mengecam keras tindakan yang menjadikan Alquran sebagai alat permainan dan gimmick pemasaran. Alquran adalah Kalamullah, bukan bahan candaan, bukan alat promosi, dan bukan komoditas untuk mengejar keuntungan. Lebih tidak patut lagi ketika ayat suci dikaitkan dengan hadiah berupa minuman keras yang jelas-jelas haram dalam Islam,” katanya.

Menurut Jazuli, persoalan ini bukan sekadar gimmick promosi yang tidak sensitif, tetapi menyangkut penghormatan terhadap kitab suci dan norma kehidupan beragama di Indonesia.

“Jangan berlindung di balik alasan promosi, hiburan, atau kreativitas. Ada batas moral, etika, dan hukum yang tidak boleh diterobos. Ayat-ayat Allah tidak boleh dipermainkan untuk menjual produk apa pun, apalagi minuman keras yang jelas keharamannya menurut Islam,” ujarnya.

Jazuli meminta, aparat penegak hukum segera mengusut tuntas peristiwa ini, termasuk memeriksa pihak yang merancang, memerintahkan, menyelenggarakan, dan menjalankan gimmick tersebut.

“Kami minta polisi bertindak tegas. Jangan berhenti pada klarifikasi. Usut siapa yang bertanggung jawab dan proses secara hukum apabila ditemukan unsur pelanggaran. Jangan sampai pembiaran hari ini menjadi preseden bahwa ayat-ayat suci boleh dipermainkan demi viralitas dan keuntungan bisnis,” tegasnya.

Bukan hanya itu, Jazuli juga meminta, pihak penyelenggara dan pemilik atau pengelola promosi tersebut memberikan klarifikasi dan pertanggungjawaban secara terbuka kepada publik.

Jazuli mengajak, umat Islam untuk menyikapi persoalan tersebut secara bermartabat, dan menyerahkan proses hukum kepada aparat.

“Kami tidak menghendaki main hakim sendiri. Tetapi kami juga tidak akan diam ketika kesucian Alquran dipermainkan. Negara harus hadir. Hukum harus ditegakkan. Jangan jadikan agama sebagai bahan permainan untuk kepentingan komersial,” katanya.***

Penulis: RD Dikdik M
Editor: Abdul Azis

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini