
PANDEGLANG,SOROSOWAN.CO.ID – Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Golkar Adde Rosi Khoerunnisa menghadiri acara Semarak Budaya yang bertajuk “Kuliner sebagai Identitas Budaya dan Identitas Daerah” yang digelar, di Kabupaten Pandeglang, Selasa (2710/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Adde Rosi mendorong, agar warisan leluhur Kabupaten Pandeglang masuk pada kurikulum sekolah.
Menurutnya, warisan leluhur bukan hanya berupa tarian, baju, dan bahasa, tetapi juga hal yang dekat dengan keseharian masyarakat, di antaranya kuliner.
“Kami berharap warisan leluhur kita ini bukan hanya berupa tarian, baju, bahasa, tetapi ada hal lain yang memang dekat dengan keseharian kita yaitu kuliner,” katanya.
Adde Rosi menyebut, kuliner sangat dekat dengan peran perempuan dan ibu-ibu. Beberapa kuliner asli Kabupaten Pandeglang yang ditampilkan dalam demo masak merupakan warisan leluhur yang biasanya hadir dalam acara kesepuhan, acara adat, dan ritual adat.
“Yang kita tahu sekarang makanan ini biasanya kita lihat di berbagai acara pernikahan, padahal sebetulnya ada cerita yang lebih dalam lagi di balik hal tersebut,” katanya.
Adde Rosi menyebut, jika kegiatan itu bertujuan untuk mensosialisasikan kepada generasi muda bahwa kuliner memiliki sejarah, cerita, dan filosofi di dalamnya.
“Seperti yang disampaikan narasumber bahwa kuliner ini punya sejarah, punya cerita, dan juga punya filosofi yang harus kita perdalam lagi,” ujarnya.
Adde Rosi mengusulkan, agar kuliner itu tidak hanya masuk kurikulum, tetapi menjadi ajang Festival. Masuk sebagai inovasi baru, agar Pandeglang lebih dikenal melalui kulinernya.
“Kita di Pandeglang ini harus kreatif, harus kolaboratif dan juga berinovasi, tujuannya agar Pandeglang lebih dikenal oleh masyarakat dari luar,” ujarnya.

Menurut Adde Rosi, warisan budaya kuliner tidak boleh mati dan tidak hanya diingat dari mulut ke mulut. Oleh karenanya, harus jadi muatan lokal seni budaya di sekolah.
“Kami berharap nanti kita bisa komunikasikan dengan Dinas Pendidikan bahwa muatan lokal seni budaya itu jangan hanya berbicara seni budaya yang ada di luar Pandeglang. Kami ingin anak-anak Banten, anak cucu kita ke depannya itu mengetahui bagaimana sejarahnya, Bupati pertama siapa, kewedanaannya seperti apa, kemudian prasasti-prasasti yang ditinggalkannya juga seperti apa,” katanya.
Adde Rosi berjanji, ke depan pihaknya bersama budayawan Pandeglang berencana melakukan kegiatan napak tilas sejarah Pandeglang untuk dibukukan dan dimasukkan ke dalam kurikulum seni budaya di sekolah.
Di tempat yang sama, Chandra, salah seorang panitia menyampaikan, bahwa kuliner seperti mais dan masuk tidak hanya soal makanan, tetapi memiliki filosofi mendalam, termasuk makna pasung yang mengarah pada tujuan tertentu.
Chandra mengungkapkan, belum adanya museum di Pandeglang sebagai tempat penyimpanan artefak, prasasti, dan monumen sejarah yang bisa dikunjungi anak-anak.
“Sangat disayangkan saat ini di Pandeglang belum ada museum yang bisa dikunjungi anak-anak kita. Kalau ada museum dengan segala macam sejarahnya, artefaknya, prasastinya, dengan sejarah yang sudah tertulis, saya rasa akan menjadi hal yang sangat menarik,” katanya.
Chandra mendorong, agar kekayaan intelektual kuliner asli Pandeglang segera didaftarkan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) agar menjadi milik resmi masyarakat Kabupaten Pandeglang dan tidak diklaim pihak lain.
“Jangan sampai menunggu besar dulu, kemudian nanti diperebutkan hakinya oleh berbagai pihak. Kami berharap dinas yang membawahi hal ini bisa bersama-sama dengan Kemenkumham agar hal-hal yang menjadi perhatian masyarakat diprioritaskan untuk diusulkan,” ungkapnya.***
Penulis: Endang Yoga
Editor: Abdul Azis


















































