Dedi (48), pengusaha tahu lainnya mengatakan, keterpurukan produksi tahu di Kota Rangkasbitung saat ini juga dipicu harga minyak goreng yang terus melambung. “Kondisi saat ini benar-benar sangat sulit. Selain harga kacang, juga ditambah harga minyak gorong,” tuturnya.
Dedi mengaku, selain menjual tahu pasar (tahu untuk ibu rumah tangga), dirinya juga menjual tahu goreng. “Dulu waktu harga sembako stabil keuntungan menjual tahu goreng cukup untuk biaya makan dan sekolah anak-anak, tapi sekarang tidak. Untuk membayar cicilan utang per bulan bekas modal usaha saja sangat kerepotan,” ujarnya.
Begitu juga dengan yang dikatakan Lomri. Pengusaha tahu asal Kelurahan MC Barat, Kecamatan Rangkasbitung ini menambahkan, kesulitan lain yang dialami produsen tahu saat ini yakni berkurangnya stok kayu bakar. “Ya kalaupun ada, harganya juga ikut naik. Mungkin ini dampak dari terus naiknya harga sembako,” katanya seraya meminta pemerintah segera turun tangan mengantisipasi hal tersebut. ***



















































