Makanya, lanjut dia, penting bagi pelajar memahami jurnalistik dasar dan literasi digital.
“Menyoal literasi digital, Indonesia berada di angka 62 persen dari rata-rata 70 persen di antara negara ASEAN lainnya. Angka tersebut tidak begitu baik dan perlu ada upaya peningkatan literasi digital, terutama bagi kalangan pelajar,” tuturnya.
Ari menyarankan, agar ekosistem literasi digital sangat perlu diciptakan dan jaga dengan baik. Caranya, dengan menciptakan digital skill, digital etic, digital safety, dan digital culture yang baik.
“Kami harap pelajar ini bisa bijak dalam bermedia sosial dan mampu memahami informasi yang diterima, terutama yang berasal dari medsos,” ungkapnya. [irp]
Sementara, Ketua PWI Pandeglang Yanadi dalam sambutannya, mengatakan, jika kegiatan literasi media merupakan program PWI Pandeglang yang difokuskan pada pengenalan jurnalistik, baik dalam membuat berita, regulasi, hukum, undang-undang pers, dan kode etik jurnalistik.
“Media massa memegang peranan sangat penting dalam menjalankan fungsi kontrol sosial, karena menjadi penghubung antara sekolah, masyarakat, lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif,” katanya.
Yanadi berharap, kegiatan literasi media yang digelar organisasinya bisa menambah wawasan bagi para siswa diera digital. Sehingga, kata dia, para pelajar terhindar dari hoaks atau informasi bohong.
“Di era digital saat ini, semua orang sering membuka medsos. Adik-adik bisa mendapatkan informasi dari itu, namun perlu dibaca dan dicari tahu dulu sumbernya, agar tidak terjerumus dengan berita hoaks,” sarannya.



















































