Perajin Tahu
Seorang pengrajin tahu di Kampung Muhara Kebon Kelapa, MC Barat, Kecamatan Rangkasbitung saat melakukan produksi, Jumat (28/5/2026). (Foto: Istimewa)

LEBAK,SOROSOWAN.CO.ID – Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar yang menyentuh Rp17.900 berimbas terhadap seluruh aktivitas usaha masyarakat.

Selain daya beli masyarakat menurun, sejumlah pengrajin tahu mengeluh. Salah satunya diungkapkan Mad Soleh (57), pengrajin tahu asal Kampung Muhara Kebon Kalapa, Kelurahan MC Barat, Kecamatan Rangkasbitung.

Dia mengaku, sejak tidak menentunya situasi ekonomi masyarakat dan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar, usahanya terus mengalami penurunan produksi. Terlebih, dalam beberapa bulan terakhir.

Menurutnya, kenaikan harga kedelai impor menjadi faktor utama yang memukul keberlangsungan usaha kecilnya itu.

“Pengaruhnya sangat besar sekali. Kenaikan dolar saat ini langsung memengaruhi daya beli masyarakat. Produksi saya sekarang merosot,” kata Mad Soleh kepada wartawan, Jumat (29/5/2026).

Mad Soleh mengaku, sebelumnya ia mampu mengolah ratusan kilogram kedelai per hari, tapi kini kapasitas produksinya hanya tersisa 50 kilogram per hari, karena tingginya harga bahan baku dan sepinya permintaan pasar.

“Semua naik. Kedelai naik, kayu bakar naik, minyak juga naik. Mau enggak mau produksi dikurangi,” katanya.

Mad Soleh mengatakan, harga kedelai kini benar-benar melonjak tajam. Sebelumnya satu karung kedelai dijual Rp300 ribu, kini dijual senilai Rp450 ribu per karung.

“Karena kondisi ini tentu berdampak langsung terhadap tenaga kerja. Dari sebelumnya saya memperkerjakan enam orang karyawan, kini hanya tiga pekerja yang bisa dipertahankan,” ungkapnya.

“Karena produksinya sedikit, karyawan juga dirampingkan,” sambungnya.

Mad Soleh juga mengatakan, tinggi harga kedelai dan terus melonjaknya harga dolar juga memengaruhi harga jual tahu di pasaran.

Namun, demi menjaga kepercayaan pembeli dirinya tidak menaikkan harga, tetapi memperkecil ukuran agar harga terjangkau pembeli.

“Kalau ukuran enggak dikecilkan, jelas rugi. Jadi harganya tetap, tapi tahunya diperkecil supaya tetap terjangkau,” ujarnya.***

Penulis: Endang Yoga
Editor: Abdul Azis

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini