Syahril mengatakan, sedikitnya ada sekitar 89 negara yang sudah melaporkan adanya kasus cacar monyet di negaranya.
“Pemerintah juga sudah memberikan status kewaspadaan kepada seluruh maskapai penerbangan dan pelabuhan untuk bersama memberikan suatu kewaspadaan apabila ada penumpangnya yang mempunyai gejala cacar monyet,” ujarnya.
Syahril mengaku, pihaknya sudah memberikan sosialisasi dan edukasi kepada seluruh masyarakat, seluruh petugas kesehatan, dan seluruh fasilitas pelayanan kesehatan untuk mewaspadai cacar monyet.
“Saya berharap seluruh masyarakat selalu melakukan perilaku hidup bersih dan sehat dan meningkatkan protokol kesehatan. Protokol kesehatan ini bukan hanya untuk monkeypox saja, tapi juga untuk seluruh penyakit menular lainnya,” ungkapnya.
Syahril meyakinkan, penderita cacar monyet akan sembuh sendiri apabila tidak ada infeksi tambahan atau tidak ada komorbid yang berat yang dapat memperparah kondisi pasien.
”Kalau pasiennya tidak ada komorbid dan tidak ada penyakit pemberat lain, Insyaallah sebetulnya pasien ini bisa sembuh sendiri,” ucapnya.
Syharil menyebutkan, gejala penyakit cacar monyet mirip dengan gejala cacar air. Namun lebih ringan. Gejalanya dimulai dengan demam, sakit kepala, nyeri otot, dan kelelahan.
Adapun perbedaan utama antara gejala cacar air dengan cacar monyet, adalah bahwa cacar monyet menyebabkan pembengkakan pada kelenjar getah bening (limfadenopati) sedangkan cacar air tidak.
“Cacar monyet biasanya merupakan penyakit yang sembuh sendiri dengan gejala yang berlangsung dari 2 hingga 4 minggu,” ujar Syahril.***
[custom-related-posts title=”Berita Terkait” none_text=”None found” order_by=”title” order=”ASC”]


















































