Kunjungan POPTI Kota Tangsel
Gubernur Banten Andra Soni saat menerima perwakilan POPTI Kota Tangsel, bertempat di Gedung Negara Provinsi Banten, Selasa (5/8/2025). (Foto: Istimewa)

SERANG,SOROSOWAN.CO.ID – Sejumlah perwakilan Perhimpunan Orang Tua Penderita Thalasemia Indonesia (POPTI) Kota Tangerang Selatan (Tangsel) mendatangi pendopo Gubernur Banten, Selasa (5/8/2025).

Selain menyampaikan apresiasi, kedatangan mereka dalam rangka mengadu agar pelayanan kesehatan bagi penderita thalasemia lebih ditingkatkan, khususnya dalam pemberian kelasi besi.

Sejumlah POPTI yang dipimpin Ketua POPTI Cabang Kota Tangsel Rahma Fari diterima Gubernur Banten Andra Soni, bertempat di Gedung Negara Provinsi Banten Jalan Brigjen KH Syam’un No. 5 Kota Serang.

Hadir dalam pertemuan tersebut Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten Ati Pramudji Hastuti, dan sejumlah pejabat Pemprov Banten lainnya.

Dihadapan gubernur, Ketua POPTI Cabang Kota Tangsel Rahma Fari mengucapkan, syukur telah diterima menyampaikan aspirasi.

Dia mengatakan, jika pelayanan terhadap penderita thalasemia selama ini sudah baik. Namun, ada harapan yang belum terealisasi yakni pemberian kelasi besi yang dikonsumsi penderita thalasemia seumur hidup.

“Kami datang ke sini untuk mendapatkan perhatian lebih, khususnya soal pemberian kelasi besi karena itu belum tercover (ditanggung-red) oleh BPJS Kesehatan khususnya di rumah sakit tipe B,” ucap Rahma.

Untuk diketahui, thalasemia adalah penyakit keturunan yang disebabkan oleh kelainan genetik pada sel darah merah.

Sementara menanggapi asipirasi tersebut, Gubernur Banten Andra Soni menyebutkan, jika rumah sakit milik Pemprov Banten terus meningkatkan pelayanan kesehatan. Termasuk pelayanan penanganan bagi penderita thalasemia yang selama ini sudah berjalan.

“Alhamdulillah, selama ini penanganan sudah berjalan. Dalam perkembangannya tentu banyak hal-hal yang perlu diperbaharui dan ditingkatkan,” katanya.

Andra Soni mengakui bahwa, penderita thalasemia juga membutuhkan perhatian karena mereka bagian dari pejuang kehidupan.

“Kita harus bisa bersama-sama membantu, termasuk dengan BPJS Kesehatan,” ucapnya.

Menurut Andra Soni, rumah sakit Pemprov Banten selama ini sudah menangani, dan BPJS Kesehatan juga sudah menanggung. Namun, kata dia, memang perlu juga dikomunikasikan kepada rumah sakit lainnya agar semua bisa melakukan penanganan kepada penderita thalasemia.

Sedangkan, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten Ati Pramudji Hastuti menyebutkan, saat ini ada kecenderungan peningkatan penderita thalasemia di Provinsi Banten yang saat ini jumlah penderita thalasemia sebanyak 835 orang.

Sehingga, aku dia, perlu dilakukan peningkatan pelayanan penanganan bagi penderita thalasemia di rumah sakit pemerintah maupun swasta.

“Tantangan pelayanan penderita thalasemia adalah keberadaan dokter spesialis darah. Selain itu, tidak semua rumah sakit dapat memberikan layanan thalassemia, dimana dari 135 rumah sakit yang ada di Banten hanya ada 20 rumah sakit yang dapat memberikan penanganan. Itupun hanya 14 rumah sakit yang sudah bekerja sama dengan BPJS Kesehatan,” ungkapnya.

Namun, kata Ati, sesuai arahan Gubernur, kepada seluruh rumah sakit untuk turut berkontribusi dalam penanganan dan pencegahan thalasemia.

“Dalam upaya preventif, para calon pengantin harus cek kesehatan. Kalau kedua orang tua pembawa sifat, otomatis anaknya menderita thalasemia mayor. Akan memerlukan transfusi darah setiap saat seumur hidupnya,” katanya.

“Cek kesehatan calon pengantin penting untuk generasi penerus bangsa,” tandasnya.***

Penulis: RD Dikdik M
Editor: Abdul Azis

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini