Padahal menilik kata sekolah yang berasal dari bahasa latin skhhole, scola, secolae atau skhola yang dapat diartikan sebagai waktu luang atau waktu senggang, sangat dimungkinkan sekolah bukanlah tempat yang pokok untuk menciptakan pembelajaran tetapi penerus pembelajaran yang dibatasi oleh waktu dan ruang.
Oleh karena, pembelajaran sejatinya berada di dalam keluarga dan lingkungan sekitar.
Pendidikan dalam keluarga merupakan proses terbentuknya mental serta tingkah laku seorang anak secara utuh.
Disadari atau tidak, anak akan diajari bagaimana berprilaku yang baik dengan adanya penguasan diri terhadap berbagai karakter manusia pada umumnya, tidak mudah emosi atau cepat marah, sehingga akan tercipta karakter menghargai orang lain.
Selain itu adanya pembagian peran dalam keluarga akan membentuk anak bertanggung jawab atas apapun yang dilakukannya. Bahkan nilai-nilai tolong menolong dan kerja sama akan terpupuk sejak dini.
Pendidikan dalam keluarga terjadi secara spontan tidak ada kurikulum yang mengingat, oleh karena itu hati-hati dalam bersikap.
Anak akan meniru apa yang kita lakukan dan ungkapkan. Bagi mereka orangtua adalah figur nyata untuk menjalani dunia. Bekali anak-anak kita dengan ilmu agama sebagai dasar dalam bertindak, beri contoh nyata bukan materi kuliah panjang yang tak ada guna.
Melalui cara itu, anak dengan sendirinya akan berpikir bagaimana melakukan hal-hal yang baik tidak merusak atau hati-hati dalam bertindak.
Oleh karena itu, alangkah baiknya jika peran orangtua pun ditingkatkan, jangan pernah menganggap sekolah adalah satu-satunya tempat menuntut ilmu apalagi tempat mencetak karakter anak.



















































