“Fix, besok (Senin-red) kami akan aksi. Semua persiapan sudah kami lakukan, termasuk surat pemberitahuan kepada aparat kepolisian,” katanya kepada wartawan SOROSOWAN, Minggu (14/8/2022) malam.
Awang mengatakan kekecewaannya terhadap kegiatan usaha perkebunan itu, karena sama sekali tidak mengindahkan hak-hak masyarakat. Seperti membuat jalan Raya Panimbang kotor pada saat pelaksanaan cut and fiil, dan kerap membuat banjir bandang di sekitar kawasan.
“Kalau sudah turun hujan, meski hujannya kecil puluhan rumah di Kampung Karet dan Kampung Reunghas terendam. Anehnya, walau sudah sering dilaporkan, tetapi tidak pernah ada tanggapan,” ujar Awang.

Awang menyebutkan, peserta unjuk rasa nanti datang dari berbagai kalangan. Mulai dari pemuda, tokoh masyarakat dan kaum ibu. “Ini aspirasi semua, bukan orang per orang. Karena kami tidak ingin, daerah kami rusak gara-gara investasi yang tidak taat aturan,” katanya seraya mengatakan, demo akan dimulai pukul 10.00 WIB.
Sementara itu, Engkos Kosasih, Sekretaris Forum Pemuda Desa Citereurep, menegaskan bahwa PT Jaya Hunian Lestari (JHL) selaku penanggung jawab proyek pembangunan perkebunan vanili Panimbang sama sekali belum pernah menghiraukan keluhan masyarakat. Khususnya, dampak negatif dari proses pembangunan perkebunan vanili itu.
“Rencana aksi nanti merupakan puncak kekecewaan masyarakat. Kami tidak ingin daerah kami rusak, gara-gara sebuah ambisi,” ujarnya.
Engkos mengancam, selama tuntutan masyarakat tidak dipenuhi oleh PT JHL selaku penanggung jawab proyek perkebunan vanili Panimbang, unjuk rasa akan terus dilakukan. “Ini murni, kaitannya dengan hak hidup masyarakat Citeureup. Kami tidak rela warga Citeureup menjadi korban kaum kapitalis itu,” tandasnya.***


















































